Kant berpendapat bahwa
studi filsafat menjadi menarik ketika dihadapkan pada problem a priori
sintetik. Dan faktanya, memang kajian filsafat modern selalu berhadapan dengan
permasalahan a priori sintetik. Pandangan Kant ini bertentangan dengan aliran
empirisme yang ketika itu populer di dunia filsafat. Kant berpendapat, bahwa a
priori sintetik merupakan sesuatu yang esensial, karena merupakan bagian dari
keutuhan nalar kita. A priori sintetik merupakan kondisi niscaya yang diperlukan
agar pengetahuan menjadi mungkin. Di sinilah terletak kekhasan pemikiran
seorang Immanuel Kant, yang ia sebut sebagai Revolusi Copernicus dalam bangunan
filsafat. Kant menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a
priori sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui.
Suatu konsep disebut sebagai
pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak
terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan
transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari
pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan
berasal secara langsung dari pengalaman”. Dalam hal ini, Kant secara tersirat
menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental
bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak
dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman.
No comments:
Post a Comment