Kant membagi pengetahuan
kita menjadi sebagai berikut:
1. Suatu
pernyataan bersifat analitik, jika predikat dari subjek termuat dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “Bola
itu bulat”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam
subjek ‘bola’.
2. Suatu
pernyataan bersifat tidak analitik, jika pernyataan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek.
Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan
sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu berwarna
merah”.
3. Suatu
pernyataan disebut benar secara a priori, jika kebenarannya ditentukan sebelum
pengalaman, atau tanpa referensi pada pengalaman.
4. Suatu
pernyataan disebut benar secara a posteriori, jika pernyataan tersebut
ditentukan kebenarannya melalui referensi pada pengalaman. Artinya kebenarannya
hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris.
Deduksi transendental merupakan
metode yang menjadi karakteristik argumen–argumen Kant dalam “Critique of
Pure Reason.” Kata ‘Transenden’ bagi Kant berarti sesuatu yang berada di
luar jangkauan pengalaman. Sedangkan melalui konsep transendental, Kant hendak
menyelidiki bagaimana cara kita mengetahui. Bagi Kant, kedua kata tersebut
memiliki makna yang sedikit berbeda.
Suatu konsep disebut sebagai
pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak
terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan
transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari
pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan
berasal secara langsung dari pengalaman”. Dalam hal ini, Kant secara tersirat
menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental
bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak
dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman.
Melalui epistemologinya, Kant
mengakui argumen filsuf empiris seperti Hume,
yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Di sisi
lain Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti Leibniz yang
berpendapat bahwa ide – ide dan
pemikiran merupakan esensi dari pengetahuan. Epistemologi Kant hendak
mensintesiskan dua kubu pemikiran yang bertentangan waktu itu.Kant memunculkan
beberapa istilah baru guna mendukung filsafatnya, antara lain:- Sensibilitas, yang berarti
sarana kita untuk mendapatkan intuisi.
Sensibilitas bersifat reseptif.
Melaluinya intuisi langsung ditransfer ke pikiran. Pemahaman, merupakan
fakultas mental yang berfungsi untuk melakukan konseptualisasi intuisi –
intuisi yang diberikan oleh sensibilitas. Pemahaman merupakan kegiatan nalar
yang aktif dan imajinatif. Baik sensibilitas dan pemahaman berfungsi saling melengkapi, keduanya
dibutuhkan untuk mengalami dan memahami dunia.
Kant
membedakan antara forma dan konsep. Forma merupakan struktur yang kita gunakan
dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara bagaimana kita
memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Forma
merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh
intuisi untuk memahami forma.
Kant
berpendapat bahwa ruang dan waktu itu nyata secara empiris. Namun dengan
menggunakan metode pemeriksaan transendental kita juga mengetahui bahwa ruang
dan waktu tidak merepresentasikan sifat – sifat das Ding an sich. Sebaliknya,
keduanya merupakan bagian dari cara kita memandang dunia. Ini merupakan salah
satu contoh perbedaan yang digarisbawahi Kant tentang objektvitas empiris dan
subjektivitas transendental. Dan juga menunjukkan kesatuan kedua konsep
tersebut:
1.
Ruang dan waktu
memiliki objektivitas empiris, karena keduanya merupakan prasyarat yang
diperlukan untuk mengalami dunia objektif.
2.
Ruang dan waktu juga
memiliki sisi subjektivitas transendental karena keduanya merupakan forma, yang
mana melalui keduanya pikiran dapat memahami dunia. Waktu merupakan kontinutas
dan keteraturan pengalaman. Ruang bersifat tidak diskursif, hanya terdapat satu
ruang, sesuatu yang berukuran tak terbatas.
Kant membagi logika ke dalam tiga
kategori, sebagai berikut:
1. Logika Umum,
yang merupakan studi tentang pemahaman secara umum, yang berarti pemahaman
tentang intuisi empirik dalam pembentukan konsep.
2. Logika
Khusus, yang merupakan logika yang berhubungan dengan area pengetahuan
tertentu. Sebagai contoh, logika penelitian ilmiah. Dalam hal ini, logika
diperalat untuk dijadikan aturan dan metode dalam bidang keilmuan tertentu.
Logika khusus bersifat deskriptif dan analitik. Logika ini tidak berhubungan
langsung dengan pengetahuan tertentu, melainkan merupakan refleksi dari area
pengetahuan yang sudah mapan terlebih dahulu.
3. Logika
Transendental merupakan studi tentang pemahaman murni, tanpa referensi pada pengalaman.
Jadi, logika transendental merupakan ilmu tentang konsep–konsep pemahaman
murni. Sebagai konsekuensinya, logika transendental merupakan penelitian
tentang asal usul, ekstensi dan validitas tujuan pemahaman murni.
Tindakan konseptualisasi (tindakan
penyatuan bermacam representasi) dilakukan akal budi melalui pemahaman.
Tindakan ini dikenal dengan istilah sintesis representasi. Imajinasi merupakan
fakultas akal budi yang bertanggung jawab untuk menghasilkan sintesis. Hal ini
merupakan sesuatu yang sangat penting guna menghasilkan pengetahuan. Imajinasi
mampu menguasai berbagai konsep, membandingkan representasi–representasi dan
melakukan fungsi–fungsi yang diperlukan guna menghasilkan sintesis.
Kant memperkenalkan kategori sebagai
konsep–konsep murni tentang pemahaman. Kant menurunkan dua belas kategori.
Keduabelas kategori ini bersifat ‘murni’ karena tidak merujuk langsung terhadap
pengalaman. Tetapi konsep–konsep tersebut menunjukkan ukuran komparatif terhadap
muatan empiris. Kategori–kategori ini membentuk aturan–aturan yang melaluinya
sintesis konsep dapat tercapai. Kategori–kategori merupakan kondisi yang
diperlukan guna menghasilkan sintesis. Kant menurunkan kategori–kategori dengan
menggunakan deduksi transendental. Jadi, dapat disimpulkan, bahwa kategori–kategori
merupakan kondisi yang dibutuhkan demi tercapainya pengetahuan.
Kant menggambarkan pemahaman sebagai
kemampuan intelektual yang spontan, aktif dan kreatif dalam membentuk konsep.
Pemahaman selalu bersifat memediasi. Pemahaman berbanding terbalik dengan
sensibilitas yang bersifat sensual, pasif dan reseptif. Meskipun demikian,
intuisi melalui sensibilitasnya memberikan kita kesan langsung tentang dunia
eksternal.
Penganut rasionalisme umumnya
memperlakukan kategori–kategori sebagai substansi. Lalu kausalitas sebagai
pengetahuan bawaan yang merupakan fondasi bangunan seluruh pengetahuan.
Sebaliknya, para filsuf empiris berpendapat bahwa kategori–kategori merupakan
teorema yang hanya bisa didapatkan melalui analisis empirik. Pandangan empiris
ini dapat kita temukan pada pandangan Hume. Hume berpendapat bahwa kausalitas
merupakan konsep empiris yang didapatkan melalui kebiasaan. Kant tidak
sependapat dengan pemikiran dari dua aliran filsafat ini. Kant menempatkan
kategori – kategori sebagai sarana untuk memahami dunia. Kant menggunakan
deduksi transendentalnya untuk membangun konsepsi tentang kategori–kategori.
Kant menggunakan istilah apersepsi
untuk menunjukkan pengalaman yang datang secara bersamaan dengan kesadaran diri
dalam kesatuan transendental. Ia berpendapat bahwa kesatuan transendental
pengalaman ini harus senantiasa terjadi. Tanpanya kita tidak akan mampu untuk
mensintesis intuisi–intuisi. Artinya, untuk menyatukan beragam intuisi yang
saling terpisah satu sama lain menjadi satu konsep tunggal, disyaratkan
rasionalitas terpadu.
Sintesis transendental apersepsi
merupakan ‘Aku’ yang kognitif, sebagaimana seluruh intuisi kita dipahami secara
bersamaan. ‘Aku’ yang kognitif tidak boleh dipahami sebagai persona individu
‘Aku’ tersebut. Konsep persona bersifat psikologis. Oleh karena itu, juga
bersifat empiris. Sebagaimana konsep sadar diri dibentuk berdasarkan kenangan
yang diingat, citra tubuh, kepribadian, dll. Persona merupakan ‘Aku’ yang
empiris. Dalam pandangan filsafat Cartesian, konsep ‘Aku’ yang kognitif dan
‘Aku’ yang empiris dipandang sama. Sementara, Kant memandang kesamaan konsep
Cartesian dalam menilai hal tersebut sebagai sumber kesalahan skeptisisme
Cartesian. Menurut Kant, ‘Aku’ yang empiris merupakan fenomena.
Kategori–kategori merupakan kaidah
kita memahami dunia melalui intuisi kita. Dengan demikian, kategori–kategori
tidak dapat ditempatkan di luar konteks pengalaman kita. Sebagai contoh,
menurut Kant seluruh pernyataan tentang Tuhan berada di luar pengalaman kita. Sebab,
pernyataan tentang Tuhan tidak pernah diturunkan dari kategori–kategori. Oleh
karena itu pernyataan tersebut tidak memenuhi syarat pengetahuan. Kant
mengatakan bahwa perihal ketuhanan merupakan bagian dari iman, bukan bagian
dari pengetahuan. Pandangan Kant ini bertentangan dengan filsuf–filsuf
rasionalis yang berpendapat bahwa eksistensi Tuhan dapat dibuktikan melalui
logika dialektik.
Objek merupakan sesuatu yang berada
dalam fakultas pemahaman yang didapatkan melalui kategori–kategori. Objek
senantiasa memuat pengalaman dalam kaitan, bahwa objek – objek ini mencegah
pengetahuan kita bersifat asal–asalan
dan arbitrer (sewenang-wenang).
Kategori–kategori hanya bermakna
jika dikaitkan dengan pengaplikasiannya pada intuisi. Akan tetapi, kategori–kategori
juga menghadirkan kondisi yang memungkinkan kita untuk mengecap pengalaman. Hal
ini dikarenakan kategori–kategori merupakan satu–satunya kaidah kita dalam
memahami dunia. Oleh karena itu, hanya melalui kategori–kategori kita dapat ‘mengalami’
dunia. Sebagai contoh, jika saya mengusulkan konsep tentang roh berwujud yang
mampu terbang di angkasa, maka konsep tersebut tidak dapat dimengerti karena
tidak sesuai dengan kaidah kategori. Artinya kita tidak mampu menangkap konsep
tentang roh berwujud yang terbang tersebut dalam penerapan empirisnya.
Terdapat tiga fakultas pengetahuan,
yaitu pemahaman (understanding); penilaian (judgement) dan
penalaran (reason). Pemahaman bertindak guna menghasilkan konsep,
sementara fakultas penilaian berguna untuk menghasilkan suatu nilai dan nalar
bertindak sebagai pemberi kesimpulan. Ketiga fakultas pengetahuan ini dijadikan
wilayah studi logika umum Kantian.
Pembahasan ini dapat dikatakan
merupakan bagian inti dari Critique of Pure Reason. Melalui skematisasi
ini, Kant menampilkan kondisi–kondisi yang kita butuhkan untuk menyimpulkan
kategori–kategori melalui pengalaman. Terdapat permasalahan umum dalam filsafat
tentang bagaimana kita mampu merepresentasikan suatu konsep pada diri kita
sendiri secara abstrak. Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana
kita dapat mengenali abstraksi konsep–konsep tersebut pada objek.
Kant
menjawab pertanyaan ini dengan menyatakan bahwa konsep mencapai eksistensinya
melalui skema, yang mana merupakan kaidah–kaidah tentang bagaimana konsep
tersebut diterapkan. Skema–skema ini kemudian berperan sebagai perantara dalam
proses penerapan konsep pada objek.
Perbedaan
pandangan tentang substansi dan kausalitas menyebabkan terjadinya pertentangan
antara rasionalisme dengan empirisme. Kaum rasionalis memandang substansi dan
kausalitas sebagai sesuatu yang bersifat ‘bawaan’. Sedangkan kaum empiris
menolak pandangan bahwa substansi dan kausalitas berada di luar pengalaman.
Kant menunjukkan bahwa kategori – kategori tersebut merupakan conditio sine
qua non dalam proses pemahaman. Karenanya kategori – kategori tersebut
merupakan a priori. Akan tetapi baru berarti jika dikaitkan dengan pengalaman.
Dengan kata lain, kategori – kategori tersebut bersifat sintetik.
Melalui “Critique
of Pure Reason,” Kant menganggap pentingnya membuat sanggahan terhadap
pandangan idealisme material. Idealisme Cartesian meragukan keberadaan objek–objek
eksternal dan karenanya eksistensi objek–objek eksternal tersebut tidak perlu
dibuktikan. Sementara Idealisme Berkeley berpendapat bahwa seluruh objek–objek
eksternal bersifat semu dan tidak dapat dipercaya. Kant menolak kedua pandangan
idealisme ini.
Pengetahuan fenomenal kita memang valid secara
transendental, akan tetapi juga valid secara objektif nyata. Namun, di luar
dunia fenomena, hanya ada suatu dunia noumena, di mana terdapat benda dalam
dirinya sendiri yang tidak dapat kita ketahui.
No comments:
Post a Comment