Wednesday, October 13, 2021

RESUME 2 CRITIQUE OF PURE REASON A Book By Immanuel Kant

 


Kant membagi pengetahuan kita menjadi sebagai berikut:

1.      Suatu pernyataan bersifat analitik, jika predikat dari subjek termuat  dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “Bola itu bulat”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek ‘bola’.

2.      Suatu pernyataan bersifat tidak analitik, jika pernyataan tersebut  menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek. Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu  berwarna merah”.

3.      Suatu pernyataan disebut benar secara a priori, jika kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi pada pengalaman.

4.      Suatu pernyataan disebut benar secara a posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris.

 

Deduksi transendental merupakan metode yang menjadi karakteristik argumen–argumen Kant dalam “Critique of Pure Reason.” Kata ‘Transenden’ bagi Kant berarti sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman. Sedangkan melalui konsep transendental, Kant hendak menyelidiki bagaimana cara kita mengetahui. Bagi Kant, kedua kata tersebut memiliki makna yang sedikit berbeda.

Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Dalam hal ini, Kant secara tersirat menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman.

Melalui epistemologinya, Kant mengakui argumen filsuf empiris seperti  Hume, yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Di sisi lain Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti Leibniz yang berpendapat  bahwa ide – ide dan pemikiran merupakan esensi dari pengetahuan. Epistemologi Kant hendak mensintesiskan dua kubu pemikiran yang bertentangan waktu itu.Kant memunculkan beberapa istilah baru guna mendukung filsafatnya,  antara lain:- Sensibilitas, yang berarti sarana kita untuk mendapatkan intuisi.

Sensibilitas bersifat reseptif. Melaluinya intuisi langsung ditransfer ke pikiran. Pemahaman, merupakan fakultas mental yang berfungsi untuk melakukan konseptualisasi intuisi – intuisi yang diberikan oleh sensibilitas. Pemahaman merupakan kegiatan nalar yang aktif dan imajinatif. Baik sensibilitas dan  pemahaman berfungsi saling melengkapi, keduanya dibutuhkan untuk mengalami dan memahami dunia.

Kant membedakan antara forma dan konsep. Forma merupakan struktur yang kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara bagaimana kita memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Forma merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma.

Kant berpendapat bahwa ruang dan waktu itu nyata secara empiris. Namun dengan menggunakan metode pemeriksaan transendental kita juga mengetahui bahwa ruang dan waktu tidak merepresentasikan sifat – sifat das Ding an sich. Sebaliknya, keduanya merupakan bagian dari cara kita memandang dunia. Ini merupakan salah satu contoh perbedaan yang digarisbawahi Kant tentang objektvitas empiris dan subjektivitas transendental. Dan juga menunjukkan kesatuan kedua konsep tersebut:

1.      Ruang dan waktu memiliki objektivitas empiris, karena keduanya merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mengalami dunia objektif.

2.      Ruang dan waktu juga memiliki sisi subjektivitas transendental karena keduanya merupakan forma, yang mana melalui keduanya pikiran dapat memahami dunia. Waktu merupakan kontinutas dan keteraturan pengalaman. Ruang bersifat tidak diskursif, hanya terdapat satu ruang, sesuatu yang berukuran tak terbatas.

 

Kant membagi logika ke dalam tiga kategori, sebagai berikut:

1.      Logika Umum, yang merupakan studi tentang pemahaman secara umum, yang berarti pemahaman tentang intuisi empirik dalam pembentukan konsep.

2.      Logika Khusus, yang merupakan logika yang berhubungan dengan area pengetahuan tertentu. Sebagai contoh, logika penelitian ilmiah. Dalam hal ini, logika diperalat untuk dijadikan aturan dan metode dalam bidang keilmuan tertentu. Logika khusus bersifat deskriptif dan analitik. Logika ini tidak berhubungan langsung dengan pengetahuan tertentu, melainkan merupakan refleksi dari area pengetahuan yang sudah mapan terlebih dahulu.

3.      Logika Transendental merupakan studi tentang pemahaman murni, tanpa referensi pada pengalaman. Jadi, logika transendental merupakan ilmu tentang konsep–konsep pemahaman murni. Sebagai konsekuensinya, logika transendental merupakan penelitian tentang asal usul, ekstensi dan validitas tujuan pemahaman murni.

Tindakan konseptualisasi (tindakan penyatuan bermacam representasi) dilakukan akal budi melalui pemahaman. Tindakan ini dikenal dengan istilah sintesis representasi. Imajinasi merupakan fakultas akal budi yang bertanggung jawab untuk menghasilkan sintesis. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting guna menghasilkan pengetahuan. Imajinasi mampu menguasai berbagai konsep, membandingkan representasi–representasi dan melakukan fungsi–fungsi yang diperlukan guna menghasilkan sintesis.

Kant memperkenalkan kategori sebagai konsep–konsep murni tentang pemahaman. Kant menurunkan dua belas kategori. Keduabelas kategori ini bersifat ‘murni’ karena tidak merujuk langsung terhadap pengalaman. Tetapi konsep–konsep tersebut menunjukkan ukuran komparatif terhadap muatan empiris. Kategori–kategori ini membentuk aturan–aturan yang melaluinya sintesis konsep dapat tercapai. Kategori–kategori merupakan kondisi yang diperlukan guna menghasilkan sintesis. Kant menurunkan kategori–kategori dengan menggunakan deduksi transendental. Jadi, dapat disimpulkan, bahwa kategori–kategori merupakan kondisi yang dibutuhkan demi tercapainya pengetahuan.

Kant menggambarkan pemahaman sebagai kemampuan intelektual yang spontan, aktif dan kreatif dalam membentuk konsep. Pemahaman selalu bersifat memediasi. Pemahaman berbanding terbalik dengan sensibilitas yang bersifat sensual, pasif dan reseptif. Meskipun demikian, intuisi melalui sensibilitasnya memberikan kita kesan langsung tentang dunia eksternal.

Penganut rasionalisme umumnya memperlakukan kategori–kategori sebagai substansi. Lalu kausalitas sebagai pengetahuan bawaan yang merupakan fondasi bangunan seluruh pengetahuan. Sebaliknya, para filsuf empiris berpendapat bahwa kategori–kategori merupakan teorema yang hanya bisa didapatkan melalui analisis empirik. Pandangan empiris ini dapat kita temukan pada pandangan Hume. Hume berpendapat bahwa kausalitas merupakan konsep empiris yang didapatkan melalui kebiasaan. Kant tidak sependapat dengan pemikiran dari dua aliran filsafat ini. Kant menempatkan kategori – kategori sebagai sarana untuk memahami dunia. Kant menggunakan deduksi transendentalnya untuk membangun konsepsi tentang kategori–kategori.

Kant menggunakan istilah apersepsi untuk menunjukkan pengalaman yang datang secara bersamaan dengan kesadaran diri dalam kesatuan transendental. Ia berpendapat bahwa kesatuan transendental pengalaman ini harus senantiasa terjadi. Tanpanya kita tidak akan mampu untuk mensintesis intuisi–intuisi. Artinya, untuk menyatukan beragam intuisi yang saling terpisah satu sama lain menjadi satu konsep tunggal, disyaratkan rasionalitas terpadu.

Sintesis transendental apersepsi merupakan ‘Aku’ yang kognitif, sebagaimana seluruh intuisi kita dipahami secara bersamaan. ‘Aku’ yang kognitif tidak boleh dipahami sebagai persona individu ‘Aku’ tersebut. Konsep persona bersifat psikologis. Oleh karena itu, juga bersifat empiris. Sebagaimana konsep sadar diri dibentuk berdasarkan kenangan yang diingat, citra tubuh, kepribadian, dll. Persona merupakan ‘Aku’ yang empiris. Dalam pandangan filsafat Cartesian, konsep ‘Aku’ yang kognitif dan ‘Aku’ yang empiris dipandang sama. Sementara, Kant memandang kesamaan konsep Cartesian dalam menilai hal tersebut sebagai sumber kesalahan skeptisisme Cartesian. Menurut Kant, ‘Aku’ yang empiris merupakan fenomena.

Kategori–kategori merupakan kaidah kita memahami dunia melalui intuisi kita. Dengan demikian, kategori–kategori tidak dapat ditempatkan di luar konteks pengalaman kita. Sebagai contoh, menurut Kant seluruh pernyataan tentang Tuhan berada di luar pengalaman kita. Sebab, pernyataan tentang Tuhan tidak pernah diturunkan dari kategori–kategori. Oleh karena itu pernyataan tersebut tidak memenuhi syarat pengetahuan. Kant mengatakan bahwa perihal ketuhanan merupakan bagian dari iman, bukan bagian dari pengetahuan. Pandangan Kant ini bertentangan dengan filsuf–filsuf rasionalis yang berpendapat bahwa eksistensi Tuhan dapat dibuktikan melalui logika dialektik.

Objek merupakan sesuatu yang berada dalam fakultas pemahaman yang didapatkan melalui kategori–kategori. Objek senantiasa memuat pengalaman dalam kaitan, bahwa objek – objek ini mencegah pengetahuan kita bersifat asal–asalan dan arbitrer (sewenang-wenang).

Kategori–kategori hanya bermakna jika dikaitkan dengan pengaplikasiannya pada intuisi. Akan tetapi, kategori–kategori juga menghadirkan kondisi yang memungkinkan kita untuk mengecap pengalaman. Hal ini dikarenakan kategori–kategori merupakan satu–satunya kaidah kita dalam memahami dunia. Oleh karena itu, hanya melalui kategori–kategori kita dapat ‘mengalami’ dunia. Sebagai contoh, jika saya mengusulkan konsep tentang roh berwujud yang mampu terbang di angkasa, maka konsep tersebut tidak dapat dimengerti karena tidak sesuai dengan kaidah kategori. Artinya kita tidak mampu menangkap konsep tentang roh berwujud yang terbang tersebut dalam penerapan empirisnya.

Terdapat tiga fakultas pengetahuan, yaitu pemahaman (understanding); penilaian (judgement) dan penalaran (reason). Pemahaman bertindak guna menghasilkan konsep, sementara fakultas penilaian berguna untuk menghasilkan suatu nilai dan nalar bertindak sebagai pemberi kesimpulan. Ketiga fakultas pengetahuan ini dijadikan wilayah studi logika umum Kantian.

Pembahasan ini dapat dikatakan merupakan bagian inti dari Critique of Pure Reason. Melalui skematisasi ini, Kant menampilkan kondisi–kondisi yang kita butuhkan untuk menyimpulkan kategori–kategori melalui pengalaman. Terdapat permasalahan umum dalam filsafat tentang bagaimana kita mampu merepresentasikan suatu konsep pada diri kita sendiri secara abstrak. Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita dapat mengenali abstraksi konsep–konsep tersebut pada objek.

Kant menjawab pertanyaan ini dengan menyatakan bahwa konsep mencapai eksistensinya melalui skema, yang mana merupakan kaidah–kaidah tentang bagaimana konsep tersebut diterapkan. Skema–skema ini kemudian berperan sebagai perantara dalam proses penerapan konsep pada objek.

Perbedaan pandangan tentang substansi dan kausalitas menyebabkan terjadinya pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Kaum rasionalis memandang substansi dan kausalitas sebagai sesuatu yang bersifat ‘bawaan’. Sedangkan kaum empiris menolak pandangan bahwa substansi dan kausalitas berada di luar pengalaman. Kant menunjukkan bahwa kategori – kategori tersebut merupakan conditio sine qua non dalam proses pemahaman. Karenanya kategori – kategori tersebut merupakan a priori. Akan tetapi baru berarti jika dikaitkan dengan pengalaman. Dengan kata lain, kategori – kategori tersebut bersifat sintetik.

Melalui “Critique of Pure Reason,” Kant menganggap pentingnya membuat sanggahan terhadap pandangan idealisme material. Idealisme Cartesian meragukan keberadaan objek–objek eksternal dan karenanya eksistensi objek–objek eksternal tersebut tidak perlu dibuktikan. Sementara Idealisme Berkeley berpendapat bahwa seluruh objek–objek eksternal bersifat semu dan tidak dapat dipercaya. Kant menolak kedua pandangan idealisme ini.

Pengetahuan fenomenal kita memang valid secara transendental, akan tetapi juga valid secara objektif nyata. Namun, di luar dunia fenomena, hanya ada suatu dunia noumena, di mana terdapat benda dalam dirinya sendiri yang tidak dapat kita ketahui.

No comments:

Post a Comment

10. Antara Kuantitatif, Kualitatif, dan Filsafat: Dalam Evaluasi Pendidikan

Filsafat berada di atas kualitatif, sedangkan kualitatif berada di atas kuantitatif. Filsafat itu ditambah metafisik, dan sedikit menyentu...