Wednesday, October 13, 2021

REFLEKSI PERTEMUAN KE ENAM

 


 

 

Nicolaus Copernicus merupakan seorang ilmuwan abad ke–16 yang mencetuskan teori heliosentris. Teori yang menggeser pemahaman bahwa bumi merupakan pusat semesta (yang dianut oleh tradisi barat setelah dirumuskan secara mengagumkan oleh Ptolomeus). Model heliosentris dipandang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena astronomis kala itu. Akan tetapi merupakan pandangan revolusioner yang ditentang keras oleh otoritas gereja Katolik semasa Kant hidup.

Kant juga memandang bahwa bangunan filsafat yang ia bangun merevolusikan pandangan terhadap akal budi manusia. Akal budi manusia yang kala itu dipandang sebagai ‘bejana’ pasif pengalaman menurut penganut empirisme, menjadi pusat kesadaran yang aktif. Alih–alih menganggap akal budi sebagai pusat hasil pengamatan semata, Kant justru berpendapat akal budi sebagai partisipator dalam pengamatan. Bahkan jika ditarik lebih jauh, Kant menganggap akal budi–lah yang memprakarsai dan membentuk pengalaman. Dunia yang saat ini kita pahami merupakan hasil dari pengorganisasian akal budi.

Ruang dan waktu merupakan forma yang kita gunakan dalam melihat dunia. Ruang dan waktu tidak bersifat empiris dan konseptual. Ruang dan waktu adalah cara kita mengalami dunia. Kita dapat membayangkan suatu ruang dan waktu secara terpisah dari pengalaman. Oleh karena itu, ruang dan waktu berada di luar pengalaman.

Kant berpendapat bahwa keduanya tidak dapat dipelajari. Oleh sebab itu keduanya bukanlah konsep. Maknanya adalah suatu konsep berkorespondensi dengan pengalaman menjadi suatu peradaban tertentu akan mengkonseptualisasi dunia berbeda dengan yang lainnya. Namun, ruang dan waktu merupakan sesuatu yang niscaya dalam setiap peradaban.

 

 

 

No comments:

Post a Comment

10. Antara Kuantitatif, Kualitatif, dan Filsafat: Dalam Evaluasi Pendidikan

Filsafat berada di atas kualitatif, sedangkan kualitatif berada di atas kuantitatif. Filsafat itu ditambah metafisik, dan sedikit menyentu...