Nicolaus Copernicus merupakan
seorang ilmuwan abad ke–16 yang mencetuskan teori heliosentris. Teori yang
menggeser pemahaman bahwa bumi merupakan pusat semesta (yang dianut oleh
tradisi barat setelah dirumuskan secara mengagumkan oleh Ptolomeus). Model
heliosentris dipandang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena astronomis kala
itu. Akan tetapi merupakan pandangan revolusioner yang ditentang keras oleh
otoritas gereja Katolik semasa Kant hidup.
Kant juga memandang bahwa
bangunan filsafat yang ia bangun merevolusikan pandangan terhadap akal budi
manusia. Akal budi manusia yang kala itu dipandang sebagai ‘bejana’ pasif
pengalaman menurut penganut empirisme, menjadi pusat kesadaran yang aktif.
Alih–alih menganggap akal budi sebagai pusat hasil pengamatan semata, Kant
justru berpendapat akal budi sebagai partisipator dalam pengamatan. Bahkan jika
ditarik lebih jauh, Kant menganggap akal budi–lah yang memprakarsai dan
membentuk pengalaman. Dunia yang saat ini kita pahami merupakan hasil dari
pengorganisasian akal budi.
Ruang dan waktu merupakan forma yang
kita gunakan dalam melihat dunia. Ruang dan waktu tidak bersifat empiris dan
konseptual. Ruang dan waktu adalah cara kita mengalami dunia. Kita dapat
membayangkan suatu ruang dan waktu secara terpisah dari pengalaman. Oleh karena
itu, ruang dan waktu berada di luar pengalaman.
Kant berpendapat bahwa keduanya
tidak dapat dipelajari. Oleh sebab itu keduanya bukanlah konsep. Maknanya
adalah suatu konsep berkorespondensi dengan pengalaman menjadi suatu peradaban
tertentu akan mengkonseptualisasi dunia berbeda dengan yang lainnya. Namun,
ruang dan waktu merupakan sesuatu yang niscaya dalam setiap peradaban.
No comments:
Post a Comment