Wednesday, September 8, 2021

REFLEKSI VIDEO YOUTUBE TENTANG PERKEMBANGAN FILSAFAT DI DUNIA

REFLEKSI VIDEO YOUTUBE TENTANG PERKEMBANGAN FILSAFAT DI DUNIA

OLEH PROF. MARSIGIT


Sumber: Youtube Prof. Marsigit

            Pada awalnya fanatisme di dunia filsafat di dunia terbagi menjadi 2, yaitu sesuatu yang bersifat “tetap” dan sesuatu yang bersifat “berubah”. Tokoh penganut “ketetapan” adalah Permenides, sedangkan tokoh penganut “perubahan” adalah Heraclitos. Permenides menyatakan bahwa segala sesuatu adalah tetap, sedangkan Heraclitos menyatakan bahwa segala sesuatu senantiasa berubah. Pada saat itu begitu banyak hal yang dapat dipisahkan dan digolongkan menjadi hal-hal yang bersifat “tetap” dan hal-hal yang bersifat “berubah”. Selanjutnya akan dipaparkan berbagai hal yang bertolak belakang, yaitu yang bersifat tetap dan sebaliknya yang bersifat berubah. Kita awali dari yang paling dasar, yaitu Takdir dan Ikhtiar. Takdir merupakan ketetapan dari Tuhan, artinya “terpilih.” Sedangkan Ikhtiar adalah usaha manusia, artinya “memilih.” Selanjutnya yang bersifat tetap adalah idealism, sedangkan yang bersifat berubah adalah materialisme. Yang bersifat tetap adalah Monoisme, sedangkan yang bersifat berubah adalah Pluralisme. Yang bersifat tetap adalah Spiritualisme sedangkan yang bersifat berubah adalah Realisme. Segala hal yang bersifat tetap dapat dianggap ilmu langit, sedangkan segala hal yang bersifat berubah dapat dianggap ilmu bumi. Yang bersidat tepat adalah analitik, sedangkan yang bersifat berubah adalah sintetik.

        Selanjutnya yang bersifat tetap adalah hokum, theorem, dan aksioma, sedangkan yang bersifat berubah adalah pengalaman atau empiris. Orang yang mempercayai apa yang belum ia kenali, dapat menerima hanya berdasarkan informasi yang diperolehnya disebut orang beraliran A Priori. Sedangkan orang yang tidak mudah mempercayai informasi sehingga harus melihat, mendengar, atau mengenali secara langsung objeknya disebut orang beraliran Empiricism. Pada intinya A Proiri dapat menerima segala teori yang memang diterima secara umum, sedangkan Empiricism harus mengalami sendiri suatu kejadian untuk dapat mempercayai sesuatu hal. Orang dewasa biasanya dapat mempercayai informasi yang ia terima, dimana informasi tersebut diterima secara umum, sedangkan anak biasanya tidak mudah mempercayai informasi yang ia terima sebelum mengalami sendiri atau melihat secara langsung. Dalam hal ini bukan berarti orang dewasa yang memiliki sifat tidak mudah percaya berarti memiliki sifat anak-anak, tidak sehitam putih itu. Orang dewasa yang demikian berarti memiliki kecenderungan sifat Empiricism. Selanjutnya yang bersifat tetap adalah Identitas, misalkan A = A, senantiasa tetap. Sedangkan yang bersifat berubah adalah Kontradiksi, misalkan A ≠ A, senantiasa berubah, sebagai analogi bahwa Kita yang sekarang bukan Kita yang dahulu atau yang akan dating, senantiasa berubah. Pada intinya segala sesuatu yang bersifat tetap hanya milik Tuhan, kuasa Tuhan, Kausa Prima. 

        Sementara itu segala sesuatu yang bersifat berubah berada di alam, atau disebut hukum alam. Salah satu tokoh pendukung “Ketetapan” selain Permenides yaitu Rene Descartes. Dipihak lain, sebagai penantangnya, yaitu tokoh yang mendukung “Perubahan” selain Heraclitos yaitu David Hume. Ditengah pertentangan hebat tersebut ada seorang tokoh yang mmenjadi juru damai yaitu Imanuel Kant. Imanuel Kant mempertanyakan apakah semua hal bersifat tetap? Apakah semua hal bersifat berubah? Menurut pengamatannya tidak semua hal di dunia ini bersifat tetap dan tidak pula semuanya bersifat berubah. Sebagai contoh sederhana, sesuatu yang bersifat tetap adalah garis keturunan. Sampai kapanpun, dari dulu sampai sekarang dan nanti, Kita tetaplah anak dari orang tua kita, tidak akan pernah berubah status tersebut, status kekeluargaan tersebut akan tetap melekat, meskipun kita merubah nama Kita sekalipun. Selanjutnya apa contoh dari hal yang bisa berubah? Yaitu pikiran kita. Pikiran kita dapat senantiasa berubah seiring sejalan dengan ilmu pengetahuan yang kita konstruksi dalam pikiran kita. Orang yang pola pikirnya Fix Mindset dapat digeser menjadi pola pikir Growth Mindset. Pikiran kita boleh saja senantiasa berubah akan tetapi hati kita tidak boleh berubah. Imanuel Kant Mengawinkan antara apa yang tetap dengan apa yang berubah yang disebut Sintetik Apriori.   

        Selanjutnya ada tokoh yang sangat keras menentang kedua kelompok yang sudah dipaparkan sebelumnya, yaitu kelompok tetap dan kelompok berubah. Tokoh tersebut adalah Auguste Compte (1857). Auguste Compte menyatakan bahwa “Ketetapan” dan “Perubahan” sama-sama tidak berguna. Auguste Compte membuat aliran baru yaitu Positivsm, yang meletakkan positif sebagai puncak tertinggi, kemudian dilanjutkan di bawahnya yaitu metafisik, kemudian menempatkan agama di paling dasar. Sontak saja pemikiran Auguste Compte ini mengguncang dunia, apalagi kaum spriritualis. Kita sebagai makluk beragama apakah rela agama ditempatkan di paling dasar dalam sebuah pola pikir? Oleh karena itu Kita sebagai makhluk yang dianugerahi hati dan pikiran oleh Tuhan harus menggunakan anugerah Tuhan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai hal-hal yang tidak benar dapat merusak pikiran kita apalagi merusak hati kita. Mari berusaha menjadi Hamba Tuhan yang semakin bijaksana, bijaksana dalam menyikapi zaman saat ini yaitu zaman Post Modern atau Power Now

No comments:

Post a Comment

10. Antara Kuantitatif, Kualitatif, dan Filsafat: Dalam Evaluasi Pendidikan

Filsafat berada di atas kualitatif, sedangkan kualitatif berada di atas kuantitatif. Filsafat itu ditambah metafisik, dan sedikit menyentu...