Wednesday, October 13, 2021

RESUME 2 CRITIQUE OF PURE REASON A Book By Immanuel Kant

 


Kant membagi pengetahuan kita menjadi sebagai berikut:

1.      Suatu pernyataan bersifat analitik, jika predikat dari subjek termuat  dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “Bola itu bulat”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek ‘bola’.

2.      Suatu pernyataan bersifat tidak analitik, jika pernyataan tersebut  menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek. Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan sintetik. Sebagai contoh, “Bola itu  berwarna merah”.

3.      Suatu pernyataan disebut benar secara a priori, jika kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi pada pengalaman.

4.      Suatu pernyataan disebut benar secara a posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris.

 

Deduksi transendental merupakan metode yang menjadi karakteristik argumen–argumen Kant dalam “Critique of Pure Reason.” Kata ‘Transenden’ bagi Kant berarti sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman. Sedangkan melalui konsep transendental, Kant hendak menyelidiki bagaimana cara kita mengetahui. Bagi Kant, kedua kata tersebut memiliki makna yang sedikit berbeda.

Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Dalam hal ini, Kant secara tersirat menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman.

Melalui epistemologinya, Kant mengakui argumen filsuf empiris seperti  Hume, yang berpendapat bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman. Di sisi lain Kant juga mengakui pemikiran rasionalis seperti Leibniz yang berpendapat  bahwa ide – ide dan pemikiran merupakan esensi dari pengetahuan. Epistemologi Kant hendak mensintesiskan dua kubu pemikiran yang bertentangan waktu itu.Kant memunculkan beberapa istilah baru guna mendukung filsafatnya,  antara lain:- Sensibilitas, yang berarti sarana kita untuk mendapatkan intuisi.

Sensibilitas bersifat reseptif. Melaluinya intuisi langsung ditransfer ke pikiran. Pemahaman, merupakan fakultas mental yang berfungsi untuk melakukan konseptualisasi intuisi – intuisi yang diberikan oleh sensibilitas. Pemahaman merupakan kegiatan nalar yang aktif dan imajinatif. Baik sensibilitas dan  pemahaman berfungsi saling melengkapi, keduanya dibutuhkan untuk mengalami dan memahami dunia.

Kant membedakan antara forma dan konsep. Forma merupakan struktur yang kita gunakan dalam memandang fenomena. Sedangkan konsep merupakan cara bagaimana kita memahami dan mengkategorikan fenomena guna mendapatkan pengetahuan. Forma merupakan bagian intuisi. Sementara konsep dapat dipelajari dan diterapkan oleh intuisi untuk memahami forma.

Kant berpendapat bahwa ruang dan waktu itu nyata secara empiris. Namun dengan menggunakan metode pemeriksaan transendental kita juga mengetahui bahwa ruang dan waktu tidak merepresentasikan sifat – sifat das Ding an sich. Sebaliknya, keduanya merupakan bagian dari cara kita memandang dunia. Ini merupakan salah satu contoh perbedaan yang digarisbawahi Kant tentang objektvitas empiris dan subjektivitas transendental. Dan juga menunjukkan kesatuan kedua konsep tersebut:

1.      Ruang dan waktu memiliki objektivitas empiris, karena keduanya merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mengalami dunia objektif.

2.      Ruang dan waktu juga memiliki sisi subjektivitas transendental karena keduanya merupakan forma, yang mana melalui keduanya pikiran dapat memahami dunia. Waktu merupakan kontinutas dan keteraturan pengalaman. Ruang bersifat tidak diskursif, hanya terdapat satu ruang, sesuatu yang berukuran tak terbatas.

 

Kant membagi logika ke dalam tiga kategori, sebagai berikut:

1.      Logika Umum, yang merupakan studi tentang pemahaman secara umum, yang berarti pemahaman tentang intuisi empirik dalam pembentukan konsep.

2.      Logika Khusus, yang merupakan logika yang berhubungan dengan area pengetahuan tertentu. Sebagai contoh, logika penelitian ilmiah. Dalam hal ini, logika diperalat untuk dijadikan aturan dan metode dalam bidang keilmuan tertentu. Logika khusus bersifat deskriptif dan analitik. Logika ini tidak berhubungan langsung dengan pengetahuan tertentu, melainkan merupakan refleksi dari area pengetahuan yang sudah mapan terlebih dahulu.

3.      Logika Transendental merupakan studi tentang pemahaman murni, tanpa referensi pada pengalaman. Jadi, logika transendental merupakan ilmu tentang konsep–konsep pemahaman murni. Sebagai konsekuensinya, logika transendental merupakan penelitian tentang asal usul, ekstensi dan validitas tujuan pemahaman murni.

Tindakan konseptualisasi (tindakan penyatuan bermacam representasi) dilakukan akal budi melalui pemahaman. Tindakan ini dikenal dengan istilah sintesis representasi. Imajinasi merupakan fakultas akal budi yang bertanggung jawab untuk menghasilkan sintesis. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting guna menghasilkan pengetahuan. Imajinasi mampu menguasai berbagai konsep, membandingkan representasi–representasi dan melakukan fungsi–fungsi yang diperlukan guna menghasilkan sintesis.

Kant memperkenalkan kategori sebagai konsep–konsep murni tentang pemahaman. Kant menurunkan dua belas kategori. Keduabelas kategori ini bersifat ‘murni’ karena tidak merujuk langsung terhadap pengalaman. Tetapi konsep–konsep tersebut menunjukkan ukuran komparatif terhadap muatan empiris. Kategori–kategori ini membentuk aturan–aturan yang melaluinya sintesis konsep dapat tercapai. Kategori–kategori merupakan kondisi yang diperlukan guna menghasilkan sintesis. Kant menurunkan kategori–kategori dengan menggunakan deduksi transendental. Jadi, dapat disimpulkan, bahwa kategori–kategori merupakan kondisi yang dibutuhkan demi tercapainya pengetahuan.

Kant menggambarkan pemahaman sebagai kemampuan intelektual yang spontan, aktif dan kreatif dalam membentuk konsep. Pemahaman selalu bersifat memediasi. Pemahaman berbanding terbalik dengan sensibilitas yang bersifat sensual, pasif dan reseptif. Meskipun demikian, intuisi melalui sensibilitasnya memberikan kita kesan langsung tentang dunia eksternal.

Penganut rasionalisme umumnya memperlakukan kategori–kategori sebagai substansi. Lalu kausalitas sebagai pengetahuan bawaan yang merupakan fondasi bangunan seluruh pengetahuan. Sebaliknya, para filsuf empiris berpendapat bahwa kategori–kategori merupakan teorema yang hanya bisa didapatkan melalui analisis empirik. Pandangan empiris ini dapat kita temukan pada pandangan Hume. Hume berpendapat bahwa kausalitas merupakan konsep empiris yang didapatkan melalui kebiasaan. Kant tidak sependapat dengan pemikiran dari dua aliran filsafat ini. Kant menempatkan kategori – kategori sebagai sarana untuk memahami dunia. Kant menggunakan deduksi transendentalnya untuk membangun konsepsi tentang kategori–kategori.

Kant menggunakan istilah apersepsi untuk menunjukkan pengalaman yang datang secara bersamaan dengan kesadaran diri dalam kesatuan transendental. Ia berpendapat bahwa kesatuan transendental pengalaman ini harus senantiasa terjadi. Tanpanya kita tidak akan mampu untuk mensintesis intuisi–intuisi. Artinya, untuk menyatukan beragam intuisi yang saling terpisah satu sama lain menjadi satu konsep tunggal, disyaratkan rasionalitas terpadu.

Sintesis transendental apersepsi merupakan ‘Aku’ yang kognitif, sebagaimana seluruh intuisi kita dipahami secara bersamaan. ‘Aku’ yang kognitif tidak boleh dipahami sebagai persona individu ‘Aku’ tersebut. Konsep persona bersifat psikologis. Oleh karena itu, juga bersifat empiris. Sebagaimana konsep sadar diri dibentuk berdasarkan kenangan yang diingat, citra tubuh, kepribadian, dll. Persona merupakan ‘Aku’ yang empiris. Dalam pandangan filsafat Cartesian, konsep ‘Aku’ yang kognitif dan ‘Aku’ yang empiris dipandang sama. Sementara, Kant memandang kesamaan konsep Cartesian dalam menilai hal tersebut sebagai sumber kesalahan skeptisisme Cartesian. Menurut Kant, ‘Aku’ yang empiris merupakan fenomena.

Kategori–kategori merupakan kaidah kita memahami dunia melalui intuisi kita. Dengan demikian, kategori–kategori tidak dapat ditempatkan di luar konteks pengalaman kita. Sebagai contoh, menurut Kant seluruh pernyataan tentang Tuhan berada di luar pengalaman kita. Sebab, pernyataan tentang Tuhan tidak pernah diturunkan dari kategori–kategori. Oleh karena itu pernyataan tersebut tidak memenuhi syarat pengetahuan. Kant mengatakan bahwa perihal ketuhanan merupakan bagian dari iman, bukan bagian dari pengetahuan. Pandangan Kant ini bertentangan dengan filsuf–filsuf rasionalis yang berpendapat bahwa eksistensi Tuhan dapat dibuktikan melalui logika dialektik.

Objek merupakan sesuatu yang berada dalam fakultas pemahaman yang didapatkan melalui kategori–kategori. Objek senantiasa memuat pengalaman dalam kaitan, bahwa objek – objek ini mencegah pengetahuan kita bersifat asal–asalan dan arbitrer (sewenang-wenang).

Kategori–kategori hanya bermakna jika dikaitkan dengan pengaplikasiannya pada intuisi. Akan tetapi, kategori–kategori juga menghadirkan kondisi yang memungkinkan kita untuk mengecap pengalaman. Hal ini dikarenakan kategori–kategori merupakan satu–satunya kaidah kita dalam memahami dunia. Oleh karena itu, hanya melalui kategori–kategori kita dapat ‘mengalami’ dunia. Sebagai contoh, jika saya mengusulkan konsep tentang roh berwujud yang mampu terbang di angkasa, maka konsep tersebut tidak dapat dimengerti karena tidak sesuai dengan kaidah kategori. Artinya kita tidak mampu menangkap konsep tentang roh berwujud yang terbang tersebut dalam penerapan empirisnya.

Terdapat tiga fakultas pengetahuan, yaitu pemahaman (understanding); penilaian (judgement) dan penalaran (reason). Pemahaman bertindak guna menghasilkan konsep, sementara fakultas penilaian berguna untuk menghasilkan suatu nilai dan nalar bertindak sebagai pemberi kesimpulan. Ketiga fakultas pengetahuan ini dijadikan wilayah studi logika umum Kantian.

Pembahasan ini dapat dikatakan merupakan bagian inti dari Critique of Pure Reason. Melalui skematisasi ini, Kant menampilkan kondisi–kondisi yang kita butuhkan untuk menyimpulkan kategori–kategori melalui pengalaman. Terdapat permasalahan umum dalam filsafat tentang bagaimana kita mampu merepresentasikan suatu konsep pada diri kita sendiri secara abstrak. Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita dapat mengenali abstraksi konsep–konsep tersebut pada objek.

Kant menjawab pertanyaan ini dengan menyatakan bahwa konsep mencapai eksistensinya melalui skema, yang mana merupakan kaidah–kaidah tentang bagaimana konsep tersebut diterapkan. Skema–skema ini kemudian berperan sebagai perantara dalam proses penerapan konsep pada objek.

Perbedaan pandangan tentang substansi dan kausalitas menyebabkan terjadinya pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Kaum rasionalis memandang substansi dan kausalitas sebagai sesuatu yang bersifat ‘bawaan’. Sedangkan kaum empiris menolak pandangan bahwa substansi dan kausalitas berada di luar pengalaman. Kant menunjukkan bahwa kategori – kategori tersebut merupakan conditio sine qua non dalam proses pemahaman. Karenanya kategori – kategori tersebut merupakan a priori. Akan tetapi baru berarti jika dikaitkan dengan pengalaman. Dengan kata lain, kategori – kategori tersebut bersifat sintetik.

Melalui “Critique of Pure Reason,” Kant menganggap pentingnya membuat sanggahan terhadap pandangan idealisme material. Idealisme Cartesian meragukan keberadaan objek–objek eksternal dan karenanya eksistensi objek–objek eksternal tersebut tidak perlu dibuktikan. Sementara Idealisme Berkeley berpendapat bahwa seluruh objek–objek eksternal bersifat semu dan tidak dapat dipercaya. Kant menolak kedua pandangan idealisme ini.

Pengetahuan fenomenal kita memang valid secara transendental, akan tetapi juga valid secara objektif nyata. Namun, di luar dunia fenomena, hanya ada suatu dunia noumena, di mana terdapat benda dalam dirinya sendiri yang tidak dapat kita ketahui.

RESUME 1 CRITIQUE OF PURE REASON A Book By Immanuel Kant

 

 


 

Mengenal Immanuel Kant

Buku “Critique of Pure Reason” membahas tentang gagasan filsafat Kant tentang pengetahuan. Melalui karya ini, Kant terbangun dari ‘tidur dogmatik’ nya dan mulai membangun aliran filsafat yang disebut sebagai Kritisisme Kantian. Kritisisme merupakan filsafat yang diawali dengan menyelidiki kemampuan dan batas–batas nalar. Bagi Kant, kritisisme merupakan jawaban terhadap dogmatisme. Dogmatisme menganggap pengetahuan objektif sebagai hal yang terjadi dengan sendirinya. dogmatisme percaya sepenuhnya pada kemampuan nalar dan mendasarkan pandangannya pada kaidah–kaidah a priori tanpa bertanya apakah nalar memahami hakikatnya sendiri, yakni jangkauan dan batas–batas kemampuannya.

Karya – karya setiap filsuf mau tidak mau merupakan produk suatu pribadi yang hidup pada semangat zaman tertentu. Begitupula dengan “Critique of Pure Reason”. Untuk memahaminya, kita harus mendalami siapa Immanuel Kant dan bagaimana perkembangan zaman yang melatari penulisan buku ini. Immanuel Kant lahir di Prusia Timur pada tahun 1724. Ia lahir pada masa peperangan. Kant merupakan putera dari pembuat pelana miskin beragama Protestan. Kemungkinan leluhurnya berasal dari Skotlandia. Karena latar belakang keluarganya yang sederhana, Kant bekerja keras untuk mendapatkan posisi karier yang baik di Universitas Königsberg. Ia pertamakali bergabung di sini sebagai mahasiswa pada tahun 1740. Lantas menjadi asisten privat tahun 1746. Menjadi asisten dosen pada tahun 1755. Hingga berhasil menyandang gelar profesor pada tahun 1770.

Kant meninggal pada tahun 1804. Ia menghabiskan seluruh hidupnya di Königsberg. Kant hidup semasa pemerintahan Frederick Agung sebagai Raja Prusia. Frederick Agung dikenal sebagai pribadi yang menghormati otokrasi abad pencerahan, keberanian berpikir bebas, dan spekulasi filsafat. Immanuel Kant sendiri dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan menyenangkan. Kuliah–kuliah yang diberikannya sangat populer dan menghibur. Akan tetapi, di sisi lain Kant juga merupakan cendikiawan yang hidupnya sangat teratur dan berdisiplin soal waktu. Kant juga merupakan pribadi yang sangat memperhatikan kesehatan.

Ketika menuliskan “Critique of Pure Reason”, Kant juga memakai dan mengkritisi gagasan–gagasan filsuf besar yang mempengaruhi zamannya. Banyak bagian buku ini yang menyangkal gagasan–gagasan filsafat empirik Hume, Berkeley dan Locke. Pada edisi kedua “Critique of Pure Reason”, Kant juga secara khusus menyanggah idealisme murni. Tujuan utama “Critique of Pure Reason” adalah mendamaikan pertentangan antara rasionalisme dan empirisme (antara akal budi dengan indera) dengan menunjukkan bahwa keduanya saling melengkapi.

 

Estetika dan Intuisi

Dalam “Critique of Pure Reason”, istilah estetika mengacu pada pengertian studi tentang persepsi yang ditangkap melalui indera secara langsung. Persepsi dalam pengertian Kant dianggap sebagai ‘data mentah’ yang hanya mencapai suatu keteraturan dan pengertian lewat konseptualisasi. Kant mengartikan intuisi sebagai proses penerimaan ‘data mentah’ pengetahuan dari pengalaman tanpa melalui konseptualisasi.

 

Revolusi Copernicus dalam Filsafat Kantian

Nicolaus Copernicus merupakan seorang ilmuwan abad ke–16 yang mencetuskan teori heliosentris. Teori yang menggeser pemahaman bahwa bumi merupakan pusat semesta (yang dianut oleh tradisi barat setelah dirumuskan secara mengagumkan oleh Ptolomeus). Model heliosentris dipandang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena astronomis kala itu. Akan tetapi merupakan pandangan revolusioner yang ditentang keras oleh otoritas gereja Katolik semasa Kant hidup.

Kant juga memandang bahwa bangunan filsafat yang ia bangun merevolusikan pandangan terhadap akal budi manusia. Akal budi manusia yang kala itu dipandang sebagai ‘bejana’ pasif pengalaman menurut penganut empirisme, menjadi pusat kesadaran yang aktif. Alih–alih menganggap akal budi sebagai pusat hasil pengamatan semata, Kant justru berpendapat akal budi sebagai partisipator dalam pengamatan. Bahkan jika ditarik lebih jauh, Kant menganggap akal budi–lah yang memprakarsai dan membentuk pengalaman. Dunia yang saat ini kita pahami merupakan hasil dari pengorganisasian akal budi.

 

 

Sifat Dasar Pengetahuan

Kant membagi pengetahuan kita menjadi sebagai berikut: - Suatu pernyataan bersifat analitik, jika predikat dari subjek termuat dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “Bola itu bulat”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek ‘bola’. - Suatu pernyataan bersifat tidak analitik, jika pernyataan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek. Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan sintetik.

Sebagai contoh, “Bola itu berwarna merah”. - Suatu pernyataan disebut benar secara a priori, jika kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi pada pengalaman. - Suatu pernyataan disebut benar secara a posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris. Seluruh pernyataan analitik bersifat a priori dengan alasan, bahwa kebenaran logika pernyataan tersebut terlepas dari pengalaman yang kita alami. Pernyataan ini tidak membutuhkan bukti empris untuk penilaian kebenarannya.

Seluruh pernyataan a posteriori dengan sendirinya pasti bersifat sintetik, karena terdapat informasi tambahan pada subjek yang didapatkan melalui pengalaman. Pada pernyataan di atas, misalkan kita mengamati bola berwarna merah, maka pernyataan sintetik ini menambahkan predikat ‘merah’ yang tidak terdapat pada subjek (didapatkan melalui pengamatan) ke dalam subjek ‘bola’. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, adakah pernyataan sintetik yang bersifat a priori? Kant berpendapat bahwa ada pernyataan sintetik yang bersifat a priori, misalnya pernyataan kausalitas.

 

Penyataan A priori Sintetik

Kant berpendapat bahwa studi filsafat menjadi menarik ketika dihadapkan pada problem a priori sintetik. Dan faktanya, memang kajian filsafat modern selalu berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik. Pandangan Kant ini bertentangan dengan aliran empirisme yang ketika itu populer di dunia filsafat. David Hume (1711 – 1776), menolak segala bentuk pandangan yang membenarkan a priori sintentik. Namun, bagi Kant penolakan Hume tersebut ironisnya justru merupakan bentuk a priori sintetik (pernyataan semacam ini kemudian digunakan pada beberapa abad kemudian untuk mempertanyakan keabsahan Prinsip Verifikasi penganut postivisme logis, “Bagaimana kita dapat memverifikasi Prinsip Verifikasi?”).

Kant berpendapat, bahwa a priori sintetik merupakan sesuatu yang esensial, karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. A priori sintetik merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin. Di sinilah terletak kekhasan pemikiran seorang Immanuel Kant, yang ia sebut sebagai Revolusi Copernicus dalam bangunan filsafat. Kant menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a priori sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui.

 

Fenomena dan Noumena

Kata ‘Fenomena’ merujuk pada dunia sebagaimana tampak pada kita dari perspektif personal. Bagi Kant, dunia nyata hanya merupakan dunia fenomena yang kita tangkap dan konseptualkan. Dunia fenomena berbeda dengan dunia noumena, yang mana merupakan dunia pada dirinya sendiri yang disebut dalam Bahasa Jerman sebagai ‘das Ding an sich’ yang berada di luar perspektif kita. Sesuatu dalam sesuatu itu sendiri, berada melampaui pengalaman kita. Kant berpendapat, bahwa kita tidak akan bisa mengetahui dunia noumena. Hal ini selamanya tidak dapat diketahui, karena kita tidak dapat keluar dari perspektif kita tentang dunia.

Konsekuensi pemikiran Immanuel Kant tentang dunia fenomena dan noumena adalah : Dunia yang kita kenal dan tinggali merupakan dunia fenomena yang diorganisasikan oleh pemikiran kita dengan mensintesiskan banyak data. Jika saya melihat sesuatu, maka sesuatu tersebut ada, karena dapat disentuh dan diorganisasikan dalam pikiran. Hal ini merupakan sebuah fenomena bukan noumena. Kant mengandaikan bahwa suatu benda dalam dirinya sendiri berada melampaui pengamatan kita.

 

Deduksi Transendental

Deduksi transendental merupakan metode yang menjadi karakteristik argumen–argumen Kant dalam “Critique of Pure Reason.” Kata ‘Transenden’ bagi Kant berarti sesuatu yang berada di luar jangkauan pengalaman. Sedangkan melalui konsep transendental, Kant hendak menyelidiki bagaimana cara kita mengetahui. Bagi Kant, kedua kata tersebut memiliki makna yang sedikit berbeda.

 

 

Pengetahuan Murni dan Pengetahuan Empiris

Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Dalam hal ini, Kant secara tersirat menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman.

 

Forma Ruang dan Waktu

Ruang dan waktu merupakan forma yang kita gunakan dalam melihat dunia. Ruang dan waktu tidak bersifat empiris dan konseptual. Ruang dan waktu adalah cara kita mengalami dunia. Kita dapat membayangkan suatu ruang dan waktu secara terpisah dari pengalaman. Oleh karena itu, ruang dan waktu berada di luar pengalaman.

Kant berpendapat bahwa keduanya tidak dapat dipelajari. Oleh sebab itu keduanya bukanlah konsep. Maknanya adalah suatu konsep berkorespondensi dengan pengalaman menjadi suatu peradaban tertentu akan mengkonseptualisasi dunia berbeda dengan yang lainnya. Namun, ruang dan waktu merupakan sesuatu yang niscaya dalam setiap peradaban.

 

Metode Logika

Kant membagi logika ke dalam tiga kategori, sebagai berikut:

1.      Logika Umum, yang merupakan studi tentang pemahaman secara umum, yang berarti pemahaman tentang intuisi empirik dalam pembentukan konsep.

2.      Logika Khusus, yang merupakan logika yang berhubungan dengan area pengetahuan tertentu. Sebagai contoh, logika penelitian ilmiah. Dalam hal ini, logika diperalat untuk dijadikan aturan dan metode dalam bidang keilmuan tertentu. Logika khusus bersifat deskriptif dan analitik. Logika ini tidak berhubungan langsung dengan pengetahuan tertentu, melainkan merupakan refleksi dari area pengetahuan yang sudah mapan terlebih dahulu.

3.      Logika Transendental merupakan studi tentang pemahaman murni, tanpa referensi pada pengalaman. Jadi, logika transendental merupakan ilmu tentang konsep–konsep pemahaman murni. Sebagai konsekuensinya, logika transendental merupakan penelitian tentang asal usul, ekstensi dan validitas tujuan pemahaman murni.

 

Sintesis Konsep–Konsep

Tindakan konseptualisasi (tindakan penyatuan bermacam representasi) dilakukan akal budi melalui pemahaman. Tindakan ini dikenal dengan istilah sintesis representasi. Imajinasi merupakan fakultas akal budi yang bertanggung jawab untuk menghasilkan sintesis. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat penting guna menghasilkan pengetahuan. Imajinasi mampu menguasai berbagai konsep, membandingkan representasi–representasi dan melakukan fungsi–fungsi yang diperlukan guna menghasilkan sintesis.

 

Kategori – Kategori

Kant memperkenalkan kategori sebagai konsep–konsep murni tentang pemahaman. Kant menurunkan dua belas kategori. Keduabelas kategori ini bersifat ‘murni’ karena tidak merujuk langsung terhadap pengalaman. Tetapi konsep–konsep tersebut menunjukkan ukuran komparatif terhadap muatan empiris. Kategori–kategori ini membentuk aturan–aturan yang melaluinya sintesis konsep dapat tercapai. Kategori–kategori merupakan kondisi yang diperlukan guna menghasilkan sintesis. Kant menurunkan kategori–kategori dengan menggunakan deduksi transendental. Jadi, dapat disimpulkan, bahwa kategori–kategori merupakan kondisi yang dibutuhkan demi tercapainya pengetahuan.

 

Tahapan Pemahaman

Kant menggambarkan pemahaman sebagai kemampuan intelektual yang spontan, aktif dan kreatif dalam membentuk konsep. Pemahaman selalu bersifat memediasi. Pemahaman berbanding terbalik dengan sensibilitas yang bersifat sensual, pasif dan reseptif. Meskipun demikian, intuisi melalui sensibilitasnya memberikan kita kesan langsung tentang dunia eksternal.

 

Metode yang Digunakan Dalam Deduksi Kategori – Kategori

Penganut rasionalisme umumnya memperlakukan kategori–kategori sebagai substansi. Lalu kausalitas sebagai pengetahuan bawaan yang merupakan fondasi bangunan seluruh pengetahuan. Sebaliknya, para filsuf empiris berpendapat bahwa kategori–kategori merupakan teorema yang hanya bisa didapatkan melalui analisis empirik. Pandangan empiris ini dapat kita temukan pada pandangan Hume. Hume berpendapat bahwa kausalitas merupakan konsep empiris yang didapatkan melalui kebiasaan. Kant tidak sependapat dengan pemikiran dari dua aliran filsafat ini. Kant menempatkan kategori – kategori sebagai sarana untuk memahami dunia. Kant menggunakan deduksi transendentalnya untuk membangun konsepsi tentang kategori–kategori.

 

Sintesis Transendental Apersepsi

Kant menggunakan istilah apersepsi untuk menunjukkan pengalaman yang datang secara bersamaan dengan kesadaran diri dalam kesatuan transendental. Ia berpendapat bahwa kesatuan transendental pengalaman ini harus senantiasa terjadi. Tanpanya kita tidak akan mampu untuk mensintesis intuisi–intuisi. Artinya, untuk menyatukan beragam intuisi yang saling terpisah satu sama lain menjadi satu konsep tunggal, disyaratkan rasionalitas terpadu.

 

‘Aku’ yang Kognitif dan ‘Aku’ yang Empiris

Sintesis transendental apersepsi merupakan ‘Aku’ yang kognitif, sebagaimana seluruh intuisi kita dipahami secara bersamaan. ‘Aku’ yang kognitif tidak boleh dipahami sebagai persona individu ‘Aku’ tersebut. Konsep persona bersifat psikologis. Oleh karena itu, juga bersifat empiris. Sebagaimana konsep sadar diri dibentuk berdasarkan kenangan yang diingat, citra tubuh, kepribadian, dll. Persona merupakan ‘Aku’ yang empiris. Dalam pandangan filsafat Cartesian, konsep ‘Aku’ yang kognitif dan ‘Aku’ yang empiris dipandang sama. Sementara, Kant memandang kesamaan konsep Cartesian dalam menilai hal tersebut sebagai sumber kesalahan skeptisisme Cartesian. Menurut Kant, ‘Aku’ yang empiris merupakan fenomena.

 

 

Batasan Kategori – Kategori

Kategori–kategori merupakan kaidah kita memahami dunia melalui intuisi kita. Dengan demikian, kategori–kategori tidak dapat ditempatkan di luar konteks pengalaman kita. Sebagai contoh, menurut Kant seluruh pernyataan tentang Tuhan berada di luar pengalaman kita. Sebab, pernyataan tentang Tuhan tidak pernah diturunkan dari kategori–kategori. Oleh karena itu pernyataan tersebut tidak memenuhi syarat pengetahuan. Kant mengatakan bahwa perihal ketuhanan merupakan bagian dari iman, bukan bagian dari pengetahuan. Pandangan Kant ini bertentangan dengan filsuf–filsuf rasionalis yang berpendapat bahwa eksistensi Tuhan dapat dibuktikan melalui logika dialektik.

 

Objek

Objek merupakan sesuatu yang berada dalam fakultas pemahaman yang didapatkan melalui kategori–kategori. Objek senantiasa memuat pengalaman dalam kaitan, bahwa objek – objek ini mencegah pengetahuan kita bersifat asal–asalan dan arbitrer (sewenang-wenang).

Batasan dan Berbagai Kemungkinan Pengalaman

Kategori–kategori hanya bermakna jika dikaitkan dengan pengaplikasiannya pada intuisi. Akan tetapi, kategori–kategori juga menghadirkan kondisi yang memungkinkan kita untuk mengecap pengalaman. Hal ini dikarenakan kategori–kategori merupakan satu–satunya kaidah kita dalam memahami dunia. Oleh karena itu, hanya melalui kategori–kategori kita dapat ‘mengalami’ dunia. Sebagai contoh, jika saya mengusulkan konsep tentang roh berwujud yang mampu terbang di angkasa, maka konsep tersebut tidak dapat dimengerti karena tidak sesuai dengan kaidah kategori. Artinya kita tidak mampu menangkap konsep tentang roh berwujud yang terbang tersebut dalam penerapan empirisnya.

Fakultas – Fakultas Pengetahuan

Terdapat tiga fakultas pengetahuan, yaitu pemahaman (understanding); penilaian (judgement) dan penalaran (reason). Pemahaman bertindak guna menghasilkan konsep, sementara fakultas penilaian berguna untuk menghasilkan suatu nilai dan nalar bertindak sebagai pemberi kesimpulan. Ketiga fakultas pengetahuan ini dijadikan wilayah studi logika umum Kantian.

Skematisasi Konsep – Konsep Murni Tentang Pemahaman

Pembahasan ini dapat dikatakan merupakan bagian inti dari Critique of Pure Reason. Melalui skematisasi ini, Kant menampilkan kondisi–kondisi yang kita butuhkan untuk menyimpulkan kategori–kategori melalui pengalaman. Terdapat permasalahan umum dalam filsafat tentang bagaimana kita mampu merepresentasikan suatu konsep pada diri kita sendiri secara abstrak. Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita dapat mengenali abstraksi konsep–konsep tersebut pada objek.

Kant menjawab pertanyaan ini dengan menyatakan bahwa konsep mencapai eksistensinya melalui skema, yang mana merupakan kaidah–kaidah tentang bagaimana konsep tersebut diterapkan. Skema–skema ini kemudian berperan sebagai perantara dalam proses penerapan konsep pada objek.

 

Analogi–Analogi

Perbedaan pandangan tentang substansi dan kausalitas menyebabkan terjadinya pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme. Kaum rasionalis memandang substansi dan kausalitas sebagai sesuatu yang bersifat ‘bawaan’. Sedangkan kaum empiris menolak pandangan bahwa substansi dan kausalitas berada di luar pengalaman. Kant menunjukkan bahwa kategori – kategori tersebut merupakan conditio sine qua non dalam proses pemahaman. Karenanya kategori – kategori tersebut merupakan a priori. Akan tetapi baru berarti jika dikaitkan dengan pengalaman. Dengan kata lain, kategori – kategori tersebut bersifat sintetik.

 

Kritik Terhadap Idealisme

Melalui “Critique of Pure Reason,” Kant menganggap pentingnya membuat sanggahan terhadap pandangan idealisme material. Idealisme Cartesian meragukan keberadaan objek–objek eksternal dan karenanya eksistensi objek–objek eksternal tersebut tidak perlu dibuktikan. Sementara Idealisme Berkeley berpendapat bahwa seluruh objek–objek eksternal bersifat semu dan tidak dapat dipercaya. Kant menolak kedua pandangan idealisme ini.

 

 

Noumena

Pengetahuan kita pada akhirnya terbatas pada fakultas pemahaman kita yang tercermin melalui kategori–kategori. Pencapaian utama filsafat Kant dibandingkan kedua aliran filsafat sebelumnya (rasionalisme dan empirisme) adalah pembatasan–pembatasan pada aspek pengetahuan kita. Pengetahuan kita sejatinya terbatas pada dunia sehari–hari, yaitu dunia fenomena. Kita tidak dapat mencapai pada apa yang memunculkan fenomena itu sendiri, suatu dunia ‘das Ding an sich’. Dalam “Critique of Pure Reason” terjadi inkonsistensi dalam penggunaan istilah ‘noumena’. Tetapi, umumnya ‘das Ding an sich’ merujuk pada objek dalam ‘noumena’. Sementara ‘noumena’ menunjukkan gagasan dalam ‘das Ding an sich’. Dengan demikian, noumena merupakan tembok intelektual yang menjadi batas pengetahuan kita yang tetap dalam dunia fenomena.

 

REFLEKSI PERTEMUAN KE ENAM

 


 

 

Nicolaus Copernicus merupakan seorang ilmuwan abad ke–16 yang mencetuskan teori heliosentris. Teori yang menggeser pemahaman bahwa bumi merupakan pusat semesta (yang dianut oleh tradisi barat setelah dirumuskan secara mengagumkan oleh Ptolomeus). Model heliosentris dipandang lebih tepat untuk menjelaskan fenomena astronomis kala itu. Akan tetapi merupakan pandangan revolusioner yang ditentang keras oleh otoritas gereja Katolik semasa Kant hidup.

Kant juga memandang bahwa bangunan filsafat yang ia bangun merevolusikan pandangan terhadap akal budi manusia. Akal budi manusia yang kala itu dipandang sebagai ‘bejana’ pasif pengalaman menurut penganut empirisme, menjadi pusat kesadaran yang aktif. Alih–alih menganggap akal budi sebagai pusat hasil pengamatan semata, Kant justru berpendapat akal budi sebagai partisipator dalam pengamatan. Bahkan jika ditarik lebih jauh, Kant menganggap akal budi–lah yang memprakarsai dan membentuk pengalaman. Dunia yang saat ini kita pahami merupakan hasil dari pengorganisasian akal budi.

Ruang dan waktu merupakan forma yang kita gunakan dalam melihat dunia. Ruang dan waktu tidak bersifat empiris dan konseptual. Ruang dan waktu adalah cara kita mengalami dunia. Kita dapat membayangkan suatu ruang dan waktu secara terpisah dari pengalaman. Oleh karena itu, ruang dan waktu berada di luar pengalaman.

Kant berpendapat bahwa keduanya tidak dapat dipelajari. Oleh sebab itu keduanya bukanlah konsep. Maknanya adalah suatu konsep berkorespondensi dengan pengalaman menjadi suatu peradaban tertentu akan mengkonseptualisasi dunia berbeda dengan yang lainnya. Namun, ruang dan waktu merupakan sesuatu yang niscaya dalam setiap peradaban.

 

 

 

REFLEKSI PERTEMUAN KE LIMA

 


 

 

Kant berpendapat bahwa studi filsafat menjadi menarik ketika dihadapkan pada problem a priori sintetik. Dan faktanya, memang kajian filsafat modern selalu berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik. Pandangan Kant ini bertentangan dengan aliran empirisme yang ketika itu populer di dunia filsafat. Kant berpendapat, bahwa a priori sintetik merupakan sesuatu yang esensial, karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. A priori sintetik merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin. Di sinilah terletak kekhasan pemikiran seorang Immanuel Kant, yang ia sebut sebagai Revolusi Copernicus dalam bangunan filsafat. Kant menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a priori sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui.

Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada. Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Dalam hal ini, Kant secara tersirat menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman.

 

 

 

REFLEKSI PERTEMUAN KE EMPAT

 


 

 

Masuk angin filsafatnya adalah disharmoni, artinya terjadi ketidaknormalan. Keseleo filsafatnya adalah anomaly, artinya terjadi sesuatu yang tidak normal. Filsafat menggunakan Bahasa analog. Sebagai contoh, misalkan makna dari sintesis bukan hanya satu, artinya terdapat banyak makna dari sintesis, tergantung seberapa luas kosa kata kita dalam Bahasa analog. Filsafat dari menikah adalah sintesis, karena sintesis memadukan antara tesis dan antitesis. Filsafat dari bertarung pun adalah sintesis, artinya pertarungan antara tesis dan antitesis untuk menghasilkan sintesis. Filsafat dari memasak pun adalah sintesis, karena tesis dan antithesis dimasak untuk menghasilkan masakan yaitu sintesis.

 

REFLEKSI PERTEMUAN KE TIGA

 


 

 

Dalam buku Immanuel Kant, Critique Of Pure Reason, Ia mengkritik Descartes yang menganggap logika adalah sumber ilmu sedangkan Hume menganggap pengalaman adalah sumber ilmu. Pikiran atas adalah rasio (apriori), pikiran bawah adalah pengalaman (sintetik). Kant menyatakan bahwa ilmu diperoleh dengan apriori sintetik. Tesis bertemu dengan antithesis, sehingga memunculkan sintesis. Kemudian hasil sintesis ini pun menjadi tesis yang baru, kemudian bertemu lagi dengan anti tesisnya, sehingga memunculkan hasil sintesis yang baru lagi, demikian seterusnya.

Ketika manusia tidur, maka pikiran berhenti, dan itu tidak masalah. Karena kita harus memahami ruang dan waktu. Ada waktunya untuk berpikir dan ada pula waktunya untuk tidak berpikir, yaitu ketika tidur. Filsafat adalah batasan, sopan santun dalam berpikir. Oleh karena itu tidak boleh mengatakan bahwa agama adalah mitos. Kita harus paham ruang dan waktu. Filsafat itu letaknya di pikiran, sedangkan agama letaknya di hati. Jangan sekali-kali membiarkan hati kita ragu.

REFLEKSI PERTEMUAN KE DUA

 

 

Di dunia barat kebijaksanaan berarti mencari. Di dunia timur kebijaksanaan berarti memberi. Orang barat yang dating ke Indonesia pada awalnya tidak bermaksud menjajah, tetapi mencari sumber daya. Akan tetapi karena orang Indonesia bermental dijajah, maka terjadilah penjajahan. Oleh karena itu korupsi di dunia timur lebih sulit diberantas dibandingkan korupsi di dunia barat. Karena di dunia timur orang dikatakan bijaksana jika mampu memberi, maka tidak diperhatikan apakah yang diberikan itu sesuatu yang halal atau yang haram.

Siapakah aku ketika kecil? yaitu ada. Siapakah temanku sewaktu kecil? yaitu yang mungkin ada. siapakah aku ketika dewasa? Yaitu tesis. Siapakah temanku ketika dewasa? Yaitu antithesis. Apa hobiku? Yaitu melakukan sintesis. Darimana asalku? Yaitu dari mitos (tidak berpikir). Aku mau ke mana? Yaitu mencari logos (mencari ilmu/berpikir). Kenapa aku di sini? Yaitu untuk mengada.

Kendala utama mencari ilmu jika merasa tidak butuh atau sombong. Harus ada acara untuk meluruhkan ego. Setelah ego luruh selanjutnya barulah bisa mencari ilmu baru. Bahasa filsafat adalah analog. Di dalam filsafat makhluk hidupnya adalah pikiran. Hidup adalah sebab akibat. Sebab akibat berarti implikasi. Filsafat adalah buah, filsafat tidak bisa dihafalkan, yang dihafalkan itu berarti mitos.

Filsafat adalah pola pikir, letaknya berada di bawah spiritual. Pikiran tidak mampu memikirkan spiritual. Bahasa analognya spiritual adalah hati. Bahasa analognya filsafat adalah pikiran. Jangan gunakan mitos untuk urusan agama. Pikiran memiliki rumah yaitu Bahasa atau kata-kata. Tulisan tidak mampu mengejar kata-kata. Tindakan tidak mampu mengejar tulisan. Ketika kita sudah berdoa dengan khusyuk maka pikiran itu berhenti, itulah batasan antara filsafat dan spiritual. Filsafat adalah olah pikir, dimulai dengan bertanya, filsafat adalah sopan santun, sopan santun adalah batasan, maka janganlah bertanya tentang spiritual, karena spiritual bukan terletak di pikiran.

Mitos tidak selalu buruk, artinya bisa baik, bisa juga buruk. Anak kecil pun belajar dari mitos. Anak kecil banyak melakukan hal berdasarkan mitos, hanya mengikuti perintah orang tuanya. Misalkan suatu buku matematika, isinya adalah mitos, tetapi setelah dibaca dan dipahami barulah menjadi logos isi buku tersebut. Sekali lagi, jangan bawa-bawa mitos ke ranah agama.

Selanjutnya dibahas filsafat satu, dua, dan banyak. Satu adalah menunjuk ke arah keesaan, monoisme. Dualisme tidak terlalu tampak, misalkan dua hal yang bertolak belakang, misalnya ya dan tidak, tinggi dan besar, dan sebagainya. Pluralisme, misalkan di jepang, terdapat banyak Tuhan. Filusuf adalah bukan pengakuan diri, tetapi diberikan oleh orang lain yang membaca atau mengikuti karyanya. Belajar filsafat adalah belajar pada pakar filsafat atau disebut filusuf.

Pikiranku adalah tesis sedangkan pikiran orang lain adalah antithesis, nah ide baru setelah pertempuran tesis dan antithesis menghasilkan sintesis atau ide baru. Pancasila adalah cermin dan buah pikiran orang Indonesia. Pancasila diserang oleh pengaruh luar atau ide-ide dari luar negeri. Ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Silahkan berpendapat, tetapi jadikan filsafat sebagai batasan, harus sopan dan santun, paham ruang dan waktu. Indonesia adalah bhineka tunggal eka.

Metafisik bahasanya analog, mudah dipahami, mudah dimengerti oleh orang awam. Tidak ada filusuf yang berdiri sendiri, selalu terkait dengan pikiran filusuf yang lain. Mencari ilmu itu banyak kendala. Kita bisa tersesat dalam keramaian teori dari berbagai tokoh, jadi carilah informasi hanya dari tokoh ahlinya, jangan sembarang tokoh. Landasan utama belaajr filsafat adalah dilandasi dengan spiritualitas.

10. Antara Kuantitatif, Kualitatif, dan Filsafat: Dalam Evaluasi Pendidikan

Filsafat berada di atas kualitatif, sedangkan kualitatif berada di atas kuantitatif. Filsafat itu ditambah metafisik, dan sedikit menyentu...